Teknologi mesin cetak warna (color printer) telah berkembang
pesat. Untuk mencetak uang atau dokumen palsu pun semakin mudah. Tapi
calon penipu jangan senang dulu, setiap dokumen yang dicetak dengan
printer warna ternyata menyimpan kode rahasia. Kode tersebut bisa
mengungkap identitas printer dan waktu pencetakan, dan pada gilirannya
bisa digunakan untuk menangkap pelaku penipuan.
Keberadaan kode tersebut, dan apa makna di balik kode itu, terungkap
oleh The Electronic Frontier Foundation (EFF). Lembaga advokasi
kebebasan pers dan hak-hak sipil itu juga mengatakan bahwa lembaga
keamanan ‘United States Secret Service’ berada di balik kode tersebut.
"Kami menemukan bahwa titik-titik tertentu dari, setidaknya, satu jenis
printer tertentu merupakan kode tanggal dan jam pencetakan dokumen.
Kode itu juga mengungkap nomor seri printer," ujar Seth Schoen,
peneliti EFF
Seperti apa kode rahasia tersebut? Menurut EFF, kode itu berupa
titik-titik kuning berukurang kurang dari setengah milimeter.
Titik-titik tersebut hanya bisa dilihat di bawah sinar biru (blue light) dan dengan bantuan kaca pembesar atau mikroskop.
Kode rahasia yang dipecahkan EFF berasal dari printer DocuColour dari
Xerox. Kode lain ditemukan EFF pada printer merek Canon, Brother, Dell,
Hewlett-Packard, Epson dan produsen lainnya.
Melacak Aktivis Pergerakan
Juru bicara Secret Service, Lorie Lewis, enggan mengomentari temuan itu
secara langsung. Namun pihaknya mengakui bahwa ada kerjasama dengan
lembaga pemerintahan lain, dan juga kalangan industri, mengenai
teknologi untuk menangkal penggunaan printer dan mesin fotokopi untuk
membuat uang palsu.
Lewis menegaskan bahwa teknologi tersebut dirancang khusus untuk
pembuatan uang palsu. "Hal itu tidak akan melacak ataupun mengukur
penggunaan hardware atau software pada komputer seseorang," ia
menambahkan.
EFF khawatir teknologi tersebut bisa digunakan untuk melacak ’suara
alternatif’. Juru bicara EFF menegaskan bahwa kode itu relatif mudah
dipecahkan dan terdapat juga pada printer warna di luar Amerika
Serikat.
"Di mancanegara, ada pemerintahan-pemerintahan tertentu yang sangat
‘tertarik’ pada apa yang dikatakan kaum pembangkang. Mereka juga akan
sangat tertarik pada cara-cara melacak keberadaan pembangkang
tersebut," tutur Rebecca Jeschke dari EFF.
Beth Givens, pembela hak-hak privasi dari Privacy Rights Clearinghouse,
menyebut keberadaan kode tersebut bisa mengancam ‘hak anonimisitas’
masyarakat sipil. "Hak membuat selebaran berakar dari masa lahirnya
republik ini (Amerika Serikat -red). Tapi kini, mencetak selebaran
dengan printer warna membuat Anda tidak lagi anonim," ujarnya.
Lee Tien, ahli hukum senior dari EFF, menekankan perlunya
ketakbernamaan bagi aktivis pergerakan ‘bawah tanah’. "Teknologi ini
membuat pemerintah mudah melacak para pembangkang," tutur Lee.
"Lebih buruk lagi, hal ini menunjukkan adanya perjanjian di belakang
layar antara pemerintah dan industri swasta yang melemahkan hak privasi
masyarakat. Pertanyaannya, perjanjian apalagi yang sudah atau akan
dibuat untuk menjamin bahwa teknologi yang kita pakai bisa ‘mengadu’
pada pemerintah?" Lee memaparkan